Puteri Wei Yang Chapter 06
Chapter 6 : Bertemu dengan teman lama
Berkat insiden babi yang kabur, Li Wei Yang menjadi
perhatian warga desa. Zhou Qing dan Nyonya Liu tidak berani menyuruhnya
melakukan pekerjaan rumah lagi tapi membiarkannya tinggal di rumah seharian
juga menjengkelkan. Akhirnya mereka berdua sepakat membiarkan dia bekerja di
kedai teh yang tidak jauh dari desa.
Kedai teh ini adalah milik Zhou Jing dan Nyonya Ma, mereka
menjual teh dan roti tortilla kepada para pengelana yang melewati desa. Ini adalah cara termudah untuk mendapatkan
uang. Nyonya Ma merasa kasihan kepada Li Wei Yang yang hanya seorang gadis
kecil tapi harus menahan semua penderitaan ini. Jadi dia memberikan Wei Yang
tugas memasak air untuk teh dan tidak memaksanya melakukan pekerjaan yang melelahkan.
Wei Yang menambahkan kayu bakar ke api ketika Nyonya Ma
dengan terburu-buru masuk. Dia melihat Wei Yang sedang sibuk tapi tetap
mendesaknya. “Wei Yang, cepat! Kita butuh sedikit air panas lagi. Dan juga bawa
10 roti tortilla. Kita punya tamu istimewa di kedai teh.”
Li Wei Yang melakukan
apa yang diperintahkan kepadanya. Dia berjalan menuju pintu tapi merasa
bingung. Ada banyak pengelana dari Selatan dan Utara, tapi tidak seorang pun
yang dianggap ‘tamu spesial’. Tamu spesial yang disebutkan Nyonya Ma, orang
seperti apakah dia? Li Wei Yang perlahan berjalan menuju pintu dan diam-diam
mengamati bagian depan kedai.
Dia melihat sekelompok pengawal berpakaian biru. Dia tidak
bisa melihat orang yang duduk di tengah kerumunan. Diantara dua puluhan kuda
biasa terdapat sebuah kuda putih yang langka dengan pelana perak dan bergaris
merah, menciptakan kesan yang luar biasa.
Nyonya Ma mengulangi perintahnya. “Wei Yang! Cepat! Jangan
biarkan tamu-tamu itu menunggu terlalu lama.”
Entah kenapa, ada perasaan tidak enak dalam diri Li Wei
Yang, seolah sesuatu yang buruk akan terjadi saat dia melangkahkan kakinya ke
luar. Kakinya tidak bisa bergerak, dan membeku.
“Wei Yang? Cepat keluar!” Zhou Jiang menjadi tidak sabar dan
dengan cepat tertawa sambil memiminta maaf kepada tamunya. “Gadis itu sedikit
ceroboh dan lamban. Aku akan menghukumnya nanti.”
Dan kemudian terdengar suara dari salah satu pengawal.
“Tidak masalah,tapi cepat bawakan tehnya. Tuanku sedang terburu-buru.”
Melihat situasi ini, tidak ada cara untuk mundur. Li Wei
Yang merenung dan memutuskan untuk tetap keluar. Tetapi belum ada satu langkah
dia kembali membeku setelah melihat
orang yang duduk ditengah. Dalam sekejap, semua melihat ke arah Li Wei Yang.
Bahkan pemuda itu mengangkat kepalanya dan menatapnya sekilas.
Duduk di tengah dikelilingi para pengawal, dia memiliki
sepasang mata yang bersinar terang seperti bulan dan juga terlihat sikap acuh
tak acuh dari tatapannya. Mata itu bersinar cukup terang sampai-sampai membuat
orang lain kesulitan membuka mata mereka. Dari kejauhan, siapapun bisa melihat
aura yang memisahkannya dari orang-orang kebanyakan. Pakaiannya disulam dengan hati-hati oleh
penjahit yang ahli. Tatapannya teguh seperti arus tapi juga dingin seperti es.
Sepasang mata itu terus memandangi Li Wei Yang.
Li Wei Yang bergidik, dengan cepat dia menundukkan
kepalanya. Dia mengangkat nampan itu sampai alisnya dan menundukkan kepalanya
serendah mungkin, menutupi wajahnya sehingga orang itu tidak bisa melihatnya.
Dia berjalan beberapa langkah dan kemudian menyerahkan makanan kepada Nyonya Ma
kemudian menutup wajahnya, berpura-pura takut dengan orang asing. Dengan cepat
dia kembali ke ruangan kecil di belakang kedai. Baru pada saat itulah dia
menarik napas lega.
Pria paruh baya yang duduk disamping Tuo Ba Yu berkata
padanya, “Yang Mulia, sekarang sudah hampir malam. Apa kita perlu mencari
tempat untuk menginap?”
Tuo Ba Yu tidak
menggubrisnya. Tatapan dinginnya tertuju ke tempat dimana gadis itu menghilang.
Ada sedikit humor di matanya. Gadis ini, adalah gadis yang dilihatnya pada hari
itu. . .
Gadis itu berusia sekitar 12-13 tahun dan memakai pakaian putih
kusam yang dihiasi tambalan di berbagai tempat. Sepertinya dia sudah lama
mengipasi api karena terlihat bekas arang di wajahnya. Tuo Ba Yu menyadari
tangan Li Wei Yang sangat kurus, hampir tanpa daging. Rambut hitamnya panjang
dan berantakan, yang diikat secara asal-asalan. Meski menyembunyikan wajahnya,
dia tidak bisa menyembunyikan matanya yang bersinar dan dia merasakan perasaan
aneh yang tidak bisa dijelaskan. Tubuhnya yang mungil membuat orang lain merasa
ingin melindunginya, merawatnya.
Menggelengkan kepalanya, Tuo Ba Yu berpikir dia aneh. Dia
tidak percaya dia akan memiliki pikiran yang konyol dan tidak masuk akal
seperti itu. Mengingat bagaimana gadis itu sudah menipu yang lain sebelumnya,
tiba-tiba mata Tuo Ba Yu memancarkan rasa gembira, seolah-olah dia menemukan
sesuatu yang menyenangkan.
Gadis ini sangat menarik!
Sambil memutar kejadian itu dalam kepalanya, dia dengan
santai berkata. “Tidak, kita akan segera menuju kota kecil yang tidak jauh dari
sini dan beristirahat disana. Kita harus berangkat ke Ibukota besok pagi dan
sampai di Ibukota tepat waktu.”
Zhan Shuo dengan cepat setuju. Dia tidak berani membantahnya.
Dia tahu dengan baik kepribadian Pangeran Ketujuh. Jika dia menyuruhmu
melakukan sesuatu itu artinya dia sudah
menetapkan tujuannya dan tidak akan merubah pikirannya apapun yang terjadi.
Dengan cepat, para pengawal menghabiskan teh mereka, menaiki
kuda masing-masing, dan berjalan melewati desa, menuju ke Utara.
Li Wei Yang melihat debu yang diakibatkan oleh kuda-kuda
itu. Terlihat senyuman di wajahnya. Dia tidak menduga orang dari masa lalunya
yang pertama dia temui adalah Pangeran Ketujuh, Tuo Ba Yu!
Tuo Ba Yu adalah musuh bebuyutan Tuo Ba Zhen. Mereka telah
berkali-kali bertempur tapi belum ada seorang pun yang mengklaim menjadi
pemenang. Li Wei Yang ingat, orang itu juga punya mata yang dingin dan tanpa
emosi. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk sebuah senyuman. Saat ini
pangeran ketujuh seharusnya berada di luar istana tapi dia terburu-buru kembali
ke Ibukota, pasti ada badai yang saat ini sedang terjadi disana.
Dia menunduk dan menatap tangannya yang kapalan. Bertemu
kembali dengan wajah-wajah yang dia kenal, mereka berdiri dibawah sinar
sedangkan dia harus bersembunyi di balik bayangan. Perasaan ini benar-benar
menarik.
Matahari telah terbenam, digantikan oleh bulan sabit yang
bersinar ditemani ribuan bintang di langit malam. Mereka dengan arogan
memancarkan cahayanya ke dunia ini. Udara malam yang lembab diredakan dengan
kehadiran sang bulan, menyebabkan cuaca menjadi dingin dan membuat orang
menjadi tenang.
Li Wei Yang berjalan dibelakang Zhou Jiang dan Nyonya Ma
saat mereka kembali ke kediaman keluarga Zhou.
Nyonya Liu dengan gembira melesat maju dan memeluk Li Wei
Yang. Dia dipenuhi dengan kebahagiaan. “Xiaojie, ada kabar gembira untukmu!”
Baik Zhou Jiang dan Nyonya Ma mematung melihat pemandangan
itu. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi dan terus menatap Nyonya Liu.
Mereka menduga dia salah minum obat, karena
Nyonya Liu tiba-tiba menjadi baik pada Li Wei Yang.
Li Wei Yang melihat wajah Nyonya Liu yang bersinar. Alisnya
mengernyit kemudian dia berpura-pura terkejut. “Bibi Zhou, ada apa denganmu?”
Nyonya Liu berpura-pura tidak menyadari ekspresi aneh pada
Wei Yang dan dengan cepat menjawab, “Li jia[1]! Li jia mengirimkan utusan
mereka!”
Melihat tingkahnya
yang penuh dengan antusiasme, Li Wei Yang membuat sebuah kesimpulan. “Keluarga
Li di Ping Cheng?”
“Benar! benar! Li da laoye[2] mengirimkan Lin Mama[3] untuk
mengunjungimu!” wajah Nyonya Liu berseri-seri. Sebenarnya bukan hanya Lin Mama
tapi juga 100 perak sebagai ucapan terima kasih.
Li Wei Yang merasa aneh. Seharusnya dia menunggu satu tahun
lagi sebelum Perdana Menteri Li akan mengingat jika dia punya seorang putri dan
mengirimkan orang untuk menjemputnya. Kemudian keluarga Li di Ping Cheng akan
mengirimkan orang dan membawa dia ke kediaman Li di Ping Cheng. Kemudian mereka
akan mengumumkan jika dia sudah sembuh dari penyakit. Baru setelah itu mereka
akan mengirim dia kembali ke Ibukota. Bagaimana bisa ini terjadi setahun lebih
cepat?
Pada saat ini, seorang wanita berkulit putih dan berusia
lebih dari 30 tahun mengenakan gaun sutra biru dengan bros emas di rambutnya
dan anting-anting emas keluar dari ruangan. Dia tersenyum dan berkata, “Nubi[4]
memberi hormat kepada San Xiaojie[5]”
Li Wei Yang menatap wanita itu. Dia benar-benar Lin Mama
dari kediaman Li di Ping Cheng. Dia adalah pelayan wanita yang memiliki status
tertinggi di kediaman Li di Ping Cheng. Dia perlahan menyeringai. Sepertinya
benar apa yang dia duga. Kemungkinan keluarga Li di Ping Cheng sudah menerima
kabar dari Ibukota dan memutuskan membawa kembali dia ke Ping Cheng.
Bagus, ini sangat hebat!
[Catatan]
[1] Jia –
Keluarga/Klan
[2] Da Laoye – Kepala
keluarga/pemimpin klan
[3] Mama – pelayan
wanita yang tertua atau punya status tertinggi
[4] Nubi – Digunakkan
oleh pelayan untuk menunjukkan dirinya ketika berbicara dengan seseorang yang
statusnya lebih tinggi.
[5] San Xiaojie – Nona
ketiga
Comments
Post a Comment