Puteri Wei Yang Chapter 04

Chapter 04 : Menghukum Nyonya Liu


Zhou Qing adalah seorang pria yang cerdik dibandingkan dengan Nyonya Liu. Dia tidak tidak pernah memperlakukan Li Wei Yang dengan sangat kejam karena prinsipnya adalah meninggalkan rute untuk mundur dari semua jenis situasi. Akibatnya setiap dia kembali ke rumah, Li Wei Yang akan punya hari-hari yang tenang dan damai.

Setelah selesai memasak, dia memadamkan api. Li Wei Yang membuka matanya yang kabur karena uap. Setelah merenung sesaat, dia perlahan berdiri. Dia hendak memijat betisnya yang lelah saat terdengar suara dari pintu.

“Dasar Bajingan kecil, kau jadi pemalas lagi. Cepat bersihkan dapur! Aku akan kembali lagi nanti dan melihat apakah kau masih malas atau tidak!”

Li Wei Yang perlahan melirik gadis yang sedang berdiri di pintu, dengan kedua lengan di pinggulnya, dia melotot ke arahnya. Gadis ini hanya setahun lebih tua dari Li Wei Yang tapi dia lebih tinggi darinya. Wajahnya cantik tapi sikapnya yang buruk telah menghancurkan kecantikan alaminya.

Zhou Lan Xiu penuh dengan kecemburuan saat melihat dengan tajam tubuh Li Wei Yang. “Ingat jangan lupa bersihkan panci. Selain itu lantai juga harus di pel. Barang-barang di atas kompor juga harus ditata!” Dia terlebih dahulu memberikan Li Wei Yang instruksi sebelum berbalik dan pergi dengan menggerutu.

Li Wei Yang berdiri di dapur kecil itu, matanya menatap punggung gadis itu lalu menyeringai. Setengah jam kemudian, akhirnya dia selesai membersihkan panci, dia membungkuk dan mulai mengepel lantai.

Tiba-tiba, kepala Zhou Lan Xiu muncul dari jendela dan berkata, “tidak akan bersih jika kau melakukannya seperti itu. Kau harus berlutut! Begitu saja tidak tahu! Oh dan jangan lupa isi tangki airnya. Kau dengar kan?”

Li Wei Yang menyeka keringat di dahi dan dagunya. Lalu dia melanjutkan tugasnya.

Selalu seperti ini. Sebagai putri dari keluarga petani, Zhou lan Xiu juga harusnya bekerja, tapi dia terus memikirkan cara untuk melimpahkan tugasnya ke Wei Yang. Setelah itu dia akan mengklaim semua pekerjaan yang dilakukan Wei Yang. Dia akan keluar dan mengatakan betapa sibuk dan lelahnya dia, karena harus mengurus xiaojie manja yang tidak berguna. Tidak hanya itu, setiap hari ketika saatnya Wei Yang makan, yang tersisa hanyalah dua roti dingin dan sedikit sup. Sebelumnya, Li Wei Yang akan menangis saat dia bekerja tapi sekarang, dia bisa menahannya.

Pada malam hari, Zhou Qing tidak makan malam di rumah. Dia diajak makan malam oleh kepala desa. Ada banyak penjaga rumah seperti dia di kediaman Li di Pin Cheng tapi di desa yang kecil ini, dia adalah orang yang sangat dihormati.

Li Wei Yang tahu jika Zhou Qing punya daya tahan alkohol yang luar biasa. Setiap hari dia akan minum-minum sampai tengah malam sebelum pulang ke rumah, sehingga memberinya kesempatan yang bagus. Dia menghitung waktu dan menunggu sampai tengah malam. Diam-diam dia mengambil kain merah yang dia sembunyikan saat dia mencuci pakaian tadi pagi. Sambil berdiri, dia membuka pintu dan kemudian berjalan menuju pagar. Dia melilitkan kain merah itu ke pagar dan menatapnya, dia terkekeh lalu dengan cepat kembali ke kamarnya.

Di tengah malam, tiba-tiba terdengar suara gerbang depan terbuka. Li Wei Yang menajamkan telinganya dan mendengarkan  dengan penuh perhatian. Terdengar suara keributan dan kemudian dia berpura-pura tidak mendengar apapun.

Tepat saat ini, Zhou Qing yang sedang mabuk kembali dan melihat di kamarnya ada siluet pria yang tinggi dan lebar. Dia berubah menjadi muram dan tersadar dari mabuknya. Dia pergi mengambil pisau dan bam, dia menendang pintu.

Suara ini membuat seluruh penghuni rumah terkejut, kecuali Li Wei Yang yang kedua matanya terpejam tapi diam-diam mendengarkan kejadian di luar.

Tiba-tiba terdengar suara seperti seseorang yang ditampar dengan keras. Diikuti dengan teriakan Zhou Qing.

“Dasar pelacur, jadi selama aku tidak di rumah kau punya laki-laki lain, hah! Dasar tidak punya malu! Apa? Kau tidak tahu? Aku jelas-jelas melihat bayangan seorang pria berlari keluar dari dalam kamarmu! Kau dengan tidak tahu malu membantah, dan mengaku tidak tahu apa-apa. Jika suatu hari nanti seseorang membunuhku, aku yakin kau juga akan mengaku tidak tahu apa-apa.”

Kata-kata itu terlontar diikuti dengan suara tamparan. Sudah jelas orang yang sedang dihukum itu adalah Nyonya Liu.

Tanpa menunggu pembelaan dari Nyonya Liu, Zhou Qing berteriak lagi, “Cepat berlutut! Aku ingin kau menjelaskan dengan jujur siapa pria itu! Jika kau tetap diam, malam ini akan menjadi pemakamanmu!”

Kemudian terdengar suara Nyonya Liu terisak dan memohon. “Aku tidak bersalah! Bagaimana mungkin aku melakukan hal itu?”

Di dalam ruangan, Zhou Qing meludahi Nyonya Liu dan berkata. “Tidak bersalah? Tidak ada seorangpun disini yang ingin menjebakmu!” kemudian dia mulai memukuli Nyonya Liu lagi.
Nyonya Liu tidak menyerah. Dia memegang lengan baju Zhou Qing dan melawan balik.

Zhou Qing terus mencaci maki dan semakin marah. Dengan satu tangannya, dia menarik rambut Nyonya Liu dan menyeretnya, memukul, serta memberikan peringatan. “Kau telah menodai kehormatan keluarga Zhou!”

Nyatanya Nyonya Liu memang punya pria lain tapi mereka baru akan bertemu saat suami dan anak-anaknya sedang tidak berada di rumah. Mengaitkan kain merah ke pagar adalah kode rahasia mereka. Malam ini dia tidak mengaitkan kain merah ke pagar, tapi entah kenapa kekasihnya datang. Dia sedang membukakan pintu belakang dan membiarkan kekasihnya keluar saat suaminya tiba.

Saat ini dadanya terasa seperti ditusuk sejuta panah dan tidak ada cara untuk menghindarinya saat Zhou Qing terus memukulinya. Dia mengerahkan semua tenaganya dan mencoba kabur.

Zhou Qing berteriak. “Heh pelacur, kesini kau!”

Dia mengejar Nyonya Liu sampai ke halaman dan berhasil menarik rambutnya. Nyonya Liu mengerang  kesakitan dan terjatuh ke tanah.

Zhou Qing hendak memukulinya lagi tapi Zhou Jiang segera berlari keluar dan menahan ayahnya, “Ayah, ayah! Hentikan, hentikan! Ibu tidak akan melakukan hal seperti itu! Mari kita bicarakan baik-baik di dalam!”

Nyonya Liu mendengar itu dan langsung mengerti maksud putranya. Dia terisak lagi, dia ingin membuat kegaduhan sehingga membuat Zhou Qing mengurungkan niatnya. “Kau pulang dengan mabuk dan belum tentu yang kau lihat itu benar, dan sekarang kau memfitnahku melakukan hal yang tidak-tidak!”

Zhou Qing tertawa dengan dingin, “Memfitnahmu? Tidak mungkin! Malam ini aku cuma minum setengah liter anggur. Itu tidak cukup membuatku mabuk sampai tidak bisa membedakan pria dan wanita! Aku tidak percaya, kau sudah setua ini dan masih melakukan hal-hal seperti itu. Selama ini saat aku tidak ada di rumah, siapa yang tahu berapa banyak pria yang sudah mengunjungimu! Kenapa kau masih berpura-pura menjadi orang yang suci di depanku?”

“Baiklah, kalau kau tidak percaya denganku, aku akan bunuh diri! Bahkan jika aku mati, kaulah penyebabnya! Nyonya Liu adalah seorang wanita yang licik. Dia berniat melompat dan membenturkan kepalanya ke dinding.

Namun, dengan cepat Zou Qing meraih kedua tanyan Nyonya Liu. “Berani-beraninya kau mengancamku dengan mencoba bunuh diri?” dia melemparkan Nyonya Liu ke tanah dan menginjak dadanya. Semakin dia memikirkannya, semakin dia marah. Dia berbalik, meraih kait pintu dan berulang kali memukuli Nyonya Liu.

Tangisan nyonya Liu bagaikan babi yang sedang disembelih, bergema ke semua penjuru.

Li Wei Yang menggeser tubuhnya, ujung bibirnya sedikit melengkung ke atas. Inilah yang mereka sebut dengan kejahatan yang kita bawa ke diri kita sendiri adalah yang paling sulit ditanggung.

Saat mendengar keributan, para tetangga segera keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Nyonya Ma dan Zhou Lan Xiu, berada di kamar mereka masing-masing, Bu Ma sebagai menantu perempuan tidak keluar karena dia tidak berani ikut campur urusan rumah tangga mertuanya. Sedangkan Zhou Lan Xiu ingin membantu ibunya tapi takut ketika melihat ayahnya, dia tidak bisa bergerak sedikit pun.

Zhou Jiang melihat sekeliling dan dengan cepat menyela Zhou Qing. Dengan suara nyaring dia berkata, “Ayah, kau terlalu banyak minum, ini sudah larut malam, ayo masuk tidak enak dilihat tetangga.” Mengatakan demikian, dia maju kedepan dan merebut kait pintu serta menarik Zhou Qing ke sisinya. Dia berbisik, “Ayah, ayo kita bicarakan baik-baik di dalam. Bahkan jika kau ingin menggunakan tinjumu tidak akan ada yang menghentikanmu, yang penting sekarang kita masuk dulu.”

Zhou Qing memandangi Nyonya Liu. Dia sudah memukuli Nyonya Liu sampai dia kehabisan nafas. Meskipun demikian, amarahnya masih belum reda dan kemudian menendang Zhou Jiang dengan brutal. “aku tidak di rumah dan  kau tidak bisa menjaga rumah! Sungguh memalukan! Bawa dia masuk!”

Zhou Qing menelan rasa amarahnya dan membantu membopong Nyonya Liu yang babak belur dipukuli. Nyonya Liu adalah orang yang angkuh. Walaupun dipukuli sampai hampir tidak sadarkan diri, dia terus membantah jika dia bersalah. Dia juga tidak berhenti menangis.
Beberapa saat kemudian, teriakan Zhou Qing terdengar lagi. “Diam! Ini sudah larut malam, kenapa kau terus meraung-raung  seolah ada di pemakaman seseorang!”

Seketika dunia menjadi damai.

Mendengar kalimat itu, Li Wei Yang tidak lagi dapat menahan tawanya dan tertawa terbahak-bahak.

Comments