Puteri Wei Yang Chapter 02
Chapter 02 : Putri yang tidak diinginkan
Dalam cahaya lilin yang redup.
Li Wei Yang sedang terbaring di atas tempat tidur ketika tiba-tiba dia terbangun. Dia bisa dengan jelas mendengar percakapan di luar.
Di luar ruangan, Nyonya Ma sedang berbicara dengan hati-hati. “Ibu apakah menurutmu lebih baik kita mencarikan dokter untuk nona ketiga? Bagaimanapun juga, dia dikirim oleh keluarga Li. Jika dia meninggal…”
Ketika mendengarkan perkataan menantu perempuannya, wajah Nyonya Liu berubah menjadi dingin dan dengan suara serak menjawab. “Orang-orang mengira dia adalah seorang bangsawan, tapi dari yang kudengar, dia terlahir dari seorang pelayan rendahan yang bertugas mencuci kaki. Tidak hanya itu, dia juga lahir di bulan februari, pembawa sial. Li adalah keluarga yang punya reputasi baik. Mereka tidak bisa membunuhnya sehingga mereka mengirim dia ke kerabat jauh mereka di Ping Cheng. Tetapi, tiba-tiba Lao Tai Tai dan Li Furen menjadi sakit-sakitan. Dia itu pembawa sial! Itu sebabnya mereka menjadi panik dan mengirimnya ke desa ini! Menurutku, tidak hanya dia pembawa sial, dia juga pemalas. Setiap kali kuberikan tugas kecil, dia selalu bertingkah seolah tugas itu membunuhnya. Dasar bocah busuk!”
Li Wei Yang terkejut menderngar pembicaraan itu. Dia memandang sekelilingnya. Ruangan ini tidak memiliki banyak barang. Hanya ada meja persegi, empat kursi kayu, pakaian dan yang tidak kalah pentingnya, tempat tidur kayu dimana berbaring saat ini. Tempat ini adalah – tiba-tiba pikirannya menjadi kabur. Pembicaraan di luar masih terus berlanjut dengan keras dan jelas.
“Saat dia ada di kediaman Li, dia punya pelayan sehingga tidak perlu melakukan pekerjaan berat. Hari ini dia hanya sedikit ceroboh dan terjatuh ke celah diantara lapisan es, menyebabkan dia menjadi sakit. Itu bukan kesalahannya…” Saat ini cuaca sangat dingin tetapi Nyonya Liu memaksa seorang gadis untuk mencuci pakaian di danau yang beku. Nyonya Ma tidak kuat menyaksikan ini semua. Suaranya menjadi semakin cemas dan gelisah.
Nyonya Liu dengan dingin mencemooh. “Bahkan untuk bayi yang baru lahir, akan ada ruang tersisa untuk kasih saying tapi nona ketiga ini benar-benar tidak berguna. Aku memberikannya tugas kecil tapi dia tidak bisa melakukannya seakan aku menyuruhnya melakukan hal yang mustahil. Memang benar apa yang mereka katakan, siapa yang akan dia tipu. Jika aku tidak mendorongnya, dia tidak akan bergerak. Orang lain Cuma butuh dua langkah tapi dia butuh tiga langkah. Melihatnya berpura-pura sakit disana membuatku marah. Lebih baik tinggakan saja dia di luar, biar mati membeku sekalian!” Saat mengucapkan kata-kata itu, dia menatap Nyonya Ma dengan ekspresi dingin. “Kau pikir aku tidak tahu? Kau merasa kasihan kepada bajingan kecil itu. Karena kau merasa kasihan kepadanya, kau saja yang mencuci baju menggantikan dia!”
Nyonya Ma dengan cepat menjawab, “Ibu, kau memang benar. Aku tidak akan mengatakan omong kosong lagi.”
Nyonya Liu menarik nafas panjang saat dia berdiri lalu membanting pintu.
Apa yang terjadi? Bukankah aku sudah mati? Bagaimana bisa aku terbaring disini? Li Wei Yang ingin bangun tapi seluruh tubuhnya kehabisan tenaga, seolah tidak ada tulang-tulang di dalam tubuhnya. Dia dengan hati-hati memikirkan semua ini. Tiba-tiba, seseorang membuka gorden dan masuk ke ruangan. Segera , Li Wei Yang duduk di lengan seseorang. Pundak orang ini kecil dan kurus degan dada yang lembut dan tercium semacam bau belalang darinya.
“Makanlah bubur ini. Setelah berkeringat, demamnya akan turun.”
Nafas yang hangat menyentuh wajahnya. Li Wei Yang berpikir dia sedang melihat hantu dan terus menatap wanita itu dengan aneh. Jika dia ingat dengan benar, wanita desa yang berumur sekitar 20 tahun ini adalah Nyonya Ma – menantu perempuan tertua di tempat keluarga dia pernah tinggal dulu. Tapi bagaimana ini bisa terjadi? Jelas-jelas dia minum anggur beracun, tapi dalam sekejap mata, dia melihat kembali wajah yang dia kenal dari 23 tahun yang lalu. . .
Pada usia 16 tahun, dia menikah dengan Tuo Ba Zhen. 8 tahun kemudian dia menjadi seorang permaisuri. Lalu dia dipenjara di istana dingin selama 12 tahun. Umurnya 36 tahun saat dia meninggal. Tetapi, Nyonya Ma masih terlihat sama seperti 23 tahun yang lalu. Ini benar-benar luar biasa! Li Wei Yang melihat tangannya yang kurus, langsing dan seputih porselen. Sepasang tangan ini jelas bukan milik wanita tua berusia 36 tahun tapi sepasang tangan milik seorang gadis. Saat pikiran itu terlintas di benaknya, sekilas terpancar perasaan ngeri pada matanya.
Nyonya Ma berbicara dengan penuh perhatian, “ada apa? Apakah kau masih kedinginan?” suaranya penuh dengan kehangatan dan siapapun bisa melihat ketulusannya. “Kita harus ke dokter tapi ibuku, dia. . . uh. . .”
Li Wei Yang melihat ke arah mangkuk bubur di tangan Nyonya Ma. Dia tidak tahu beras jenis apa yang dipakai untuk memasak bubur itu tapi dia mencium ada bau aneh dari bubur itu. Air mata mulai mengalir dari kedua matanya. Jika ini adalah mimpi, dia berharap supaya tidak pernah bangun dari mimpi ini karena dia merasakan sesuatu - dia masih hidup.
Li Wei Yang hendak berbicara tapi tiba-tiba, dia melihat orang lain membuka gorden dan dengan cepat masuk ke dalam.
Nyonya Ma yang sedang memegang mangkuk bubur, menoleh dan melihat ekspresi Nyonya Liu. Tubuhnya gemetar.
“Apa yang sedang kau lakukan?! Cepat bangun!”
Nyonya Ma terkejut dan dengan segera melepaskan Li Wei Yang. Dia berdiri dan hendak meletakkan mangkok bubur di atas meja tapi karena dia gemetar, sebagian bubur itu tumpah dan melukai tangannya tapi dia menahan rasa sakit itu dan dengan hati-hati meletakkan mangkuk bubur di atas meja.
Menyaksikan betapa kurang ajarnya menantu perempuannya karena secara diam-diam memberi makan Li Wei Yang dan bahkan dengan ceroboh menumpahkannya, Nyonya Liu dipenuhi dengan amarah. Dia meraih mangkuk bubur di atas meja dan melemparkannya ke wajah Nyonya Ma. Terdengar suara mangkuk yang pecah di tanah saat Nyonya Liu menunjuk Nyonya Ma. “Bajingan, sudah kukatakan kau tidak boleh memberinya makan. Apakah kau tidak dengar perkataanku? Kalau kau tidak mau tinggal di rumah ini silahkan pergi! Jangan tinggal disini dan membuatku malu!”
Nyonya Ma yang malang itu basah kuyup oleh semangkuk bubur. Seluruh tubuhnya merah karena luka bakar. Dia terlihat hendak menangis tapi tidakberani mengucapkan sepatah kata pun. Yang bisa dia lakukan hanyalah memegang erat bajunya saat menyeka sisa-sisa bubur dan segera membersihkan kotoran di lantai.
Nyonya Liu masih sama seperti yang dia ingat. Dia memperlakukan orang lain dengan kejam dan tanpa belas kasihan. Tidak masalah apakah itu dirinya atau Nyonya Ma, Nyonya Liu akan memperlakukan mereka seperti budak. Li Wei Yang menatap Nyonya Liu. Dia ingin berbicara, tapi Nyonya Ma dengan cepat mengedipkan mata padanya, seolah menyuruhnya untuk tidak mengatakan apapun, atau dia akan mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi.
Nyonya Ma adalah menantu perempuan yang baik, tapi tidak peduli apa pun yang dia lakukan, mertua jahat ini tidak dapat melihatnya. Dia akan menghabiskan harinya dengan mencari-cari kesalahan. Ketika dia melihat Nyonya Ma membela Li Wei Yang, dia segera berpikir jika Nyonya Ma berusaha melawannya, membuatnya membenci mereka berdua.
Li Wei Yang dengan geram menatap Nyonya Liu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Nyonya Liu melirik ke arah Li Wei Yang dan mendapati Li Wei Yang menatapnya dengan tatapan mata yang dingin. Dia terkejut dan berteriak. “Kenapa kau melihatku seperti itu?! Apakah kau gila?!”
Li Wei Yang tidak punya waktu untuk memikirkan alasan kenapa dia bisa kembali ke dirinya 13 tahun yang lalu. Di dadanya, dia merasakan liontin giok. Liontin giok ini diberikan padanya oleh ibu kandungnya saat dia masih bayi.
Ayahnya mengirim dia ke kerabat keluarga Li untuk dirawat sampai dia berumur 7 tahun. Pada awalnya, mereka masih memberinya pelayan tapi akhirnya, mereka menyadari jika perdana menteri Li tidak berniat untuk membawanya kembali ke ibukota. Atas saran seseorang, dia dikirim ke pedalaman dan tinggal dengan keluarga petani. Setiap bulan, 10 perak diberikan untuk biaya hidup.
Enam bulan yang lalu, tanpa ada alasan yang jelas, mereka tidak lagi membayar biaya hidup Li Wei Yang. Nyonya Liu sudah tiga kali pergi ke kediaman keluarga Li untuk menanyakan hal ini tapi mereka tidak peduli. Hal itu membuat Nyonya Liu semakin membencinya. Tidak hanya dia memperlakukan Wei yang sebagai pelayan, Nyonya Liu juga kasar. Dia tidak membiarkan Wei Yang pergi dan memanggil orang untuk memukulinya sampai seluruh tubuh Wei Yang dipenuhi dengan luka memar.
“Nyonya Liu melihat wajah Li Wei Yang, mengernyitkan alisnya dan berteriak, “Kenapa kau melamun, bajingan kecil?!”
Liontin giok adalah satu-satunya benda peninggalan ibunya dan mengingatkannya akan ibunya. Untuk menyembunyikan liontin ini dari Nyonya Liu dia harus membahayakan nyawanya. Tapi hari ini. . . Li Wei yang mengangkat kepalanya dan melihat ke arah wanita tua itu. Sepintas terlihat rasa dingin dalam tatapan matanya, tapi dalam sekejap mata, sebuah senyuman muncul. “Bibi Zhou [1], kau sudah lama merawatku. Ak tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikanmu kecuali liontin giok ini, yang akan kuberikan padamu sebagai tanda penghargaan.”
Jika ingatannya benar, 2 minggu lagi liontin giok ini akan ditemukan dan dicuri oleh Nyonya Liu. Saat itu, dia meminta kembali liontin giok itu dari Nyonya Liu. Bukannya Liontin yang dia dapatkan malah hukuman bertubi-tubi yang didapatnya. Kemudian saat dia menjadi istri pangeran ketiga, dia mengirim orang untuk mencari liontin itu. Tapi, desa terjangkit wabah penyakit dan sebagian besar seluruh penduduknya meninggal, termasuk Nyonya Liu. Liontin giok itu hilang selamanya.
Nyonya Liu tidak percaya lontin giok yang dia idam-idamkan tapi selalu disembunyikan di suatu tempat sekarang diberikan padanya oleh Li Wei Yang sendiri. Dia menjadi senang tapi dengan dingin menyambar liontin giok itu dari tangan Wei Yang. Dia berkata, “Ini tidak cukup!”
Nyonya Ma terkejut, dia merasa tidak mengenali gadis ini lagi. Dari yang dia ketahui, Wei Yang selalu dengan hati-hati menyimpan liontin giok itu dan tidak akan membiarkan orang lain merebutnya. Bagaiman bisa dia tiba-tiba memberikan lionton giok itu kepada Nyonya Liu. . .
Nyonya Liu menggenggam liontin itu, suasana hatinya terlihat lebih baik. Dia menyeringai. “Baiklah, kau bisa tidur hari ini tapi besok kau harus bangun pagi-pagi dan bekerja!”
Li Wei Yang tesenyum dan dengan patuh mengatakan. “Tentu saja bibi Liu. Besok aku akan bekerja dengan giat!”
Nyonya Liu terkejut karena Li Wei Yang menjadi penurut. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi tiba-tiba seorang pria jangkung masuk.ketika dia melihat apa yang terjadi di dalam, dia seolah-olah sudah terbiasa dengan kejadian itu . Dengan wajah yang marah, dia melirik Nyonya Ma, dan kemudian memaksakan tawanya. “Ibu, kenapa kau marah? Hari ini aku membelikanmu satu blok sutra yang mirip dengan yang dipakai Li Furen. Ayo ikut aku keluar!” Dia mendesak dan menyeret Nyonya Liu keluar.
Saat diseret keluar, Nyonya Liu berbalik dan mengatakan kepada Nyonya Ma, “Jika kau ketahuan memberi makan dia lagi, akan kukuliti kau!”
Setelah Nyonya Liu menghilang, Nyonya Ma memegang wajahnya dan menangis tersedu-sedu.
Li Wei Yang melihat kea rah Nyonya Ma dan menggelengkan kepalanya. Seseorang tidak boleh lemah dan penakut. Ada banyak cara untuk mendapatkan kembali liontin giok itu. Untuk menangani orang seperti Nyonya Liu, seseorang harus menggunakan metode yang lebih licik!
Catatan
[1] ini bukan salah ketik. Zhou adalah nama keluarga suami Nyonya Liu. Liu adalah nama gadisnya.
Comments
Post a Comment